Di daerah Kecamatan Purwaharja,Kota
Banjar,Jawa Barat.Terdapat Desa siluman atau sering di sebut dengan Rawa Onom
dan Pulau Majeti,Konon daerah ini adalah sebuah kerajaan turunan dari Kerajaan
Galuh, Rajanya bernama Prabu selang kuning, namun kerajaan itu lenyap ditelan
bumi, untuk itu hal ini sangat berkaitan dengan kisah mistik, kesan angker dan
menyeramkan. Onom seolah menjadi simbol nilai magis bagi sebagian warga Banjar.
Sejak zaman dulu sampai sekarang, sebutan itu terus berngiang di telinga
masyarakat Banjar.
Onom ini adalah nama siluman yang dipercaya, dapat dipanggil jika diperlukan, dan juga mampu memberikan
bantuan dan sumber kekuatan bagi yang memanggilnya. Tak heran bila kemudian
berkat pengaruh onom, sebagian masyarakat Banjar (yang percaya pada Onom)
memiliki kebanggaan tersendiri sebagai warga Banjar dengan kekuatan Onomnya. Biasanya onom ini
juga dipanggil dalam acara resmi pemerintahan.
Kemunculan Onom ini ditandai dengan hadirnya seekor kuda tak berpenumpang, tapi tubuhnya bermandi keringat dengan napas terengah-engah seakan menanggung beban yang berat. Kuda yang datang ke lokasi upacara itu diyakini tengah ditunggangi oleh ratu Onom. Namun saat ini, kepercayaan dan pemujaan terhadap Onom lengkap dengan sesajian yang dilakukan oleh pihak pemerintah tidak ada lagi. Ini terjadi seiring dengan makin melunturnya kepercayaan, pemujaan dan pemanggilan Onom yang berkembang di masyarakat Banjar sendiri.
Masyarakat umumpun jika memiliki tujuan khusus biasanya akan dimintai puasa selama tiga hari setelah itu mereka meminta sesaji,yang didalamnya terdapat sambel tarasi,rokok kretek,atau bahkan daging ayam dan sebagainya.serta memberikan sebuah tumbal.
Orang yang datang ke tempat ini tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang sompral (seenaknya). Karena di percayai akan mendatangkan musibah.
Kemunculan Onom ini ditandai dengan hadirnya seekor kuda tak berpenumpang, tapi tubuhnya bermandi keringat dengan napas terengah-engah seakan menanggung beban yang berat. Kuda yang datang ke lokasi upacara itu diyakini tengah ditunggangi oleh ratu Onom. Namun saat ini, kepercayaan dan pemujaan terhadap Onom lengkap dengan sesajian yang dilakukan oleh pihak pemerintah tidak ada lagi. Ini terjadi seiring dengan makin melunturnya kepercayaan, pemujaan dan pemanggilan Onom yang berkembang di masyarakat Banjar sendiri.
Masyarakat umumpun jika memiliki tujuan khusus biasanya akan dimintai puasa selama tiga hari setelah itu mereka meminta sesaji,yang didalamnya terdapat sambel tarasi,rokok kretek,atau bahkan daging ayam dan sebagainya.serta memberikan sebuah tumbal.
Orang yang datang ke tempat ini tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang sompral (seenaknya). Karena di percayai akan mendatangkan musibah.
Tidak hanya dari warga Banjar saja pengunjung
Pulau Majeti ini,namun warga setempat mengatakan sering melihat mobil berpelat nomor B,parkir
disekitar area,yang di yakini tujuannya untuk meminta pesugihan. - Nur Laelatus Sangadah, F1G013041