Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2015

Sendekala ! Tidak boleh keluar petang ??



Jika Anda mengetahui istilah Jawa yang satu ini, pasti Anda akan teringat kisah kecil Anda ketika orangtua melarang kita untuk keluar rumah diwaktu menjelang maghrib dan setengah jam setelah sholat maghrib.
Istilah sendekala dalam bahasa Jawa ini merupakan bentuk turunan dari “senja kala” yaitu waktu senja dimana matahari terbenam dan sang mega mulai surup menghabiskan sisa-sisa sinar terangnya. Dalam masyarakat Jawa mengenal senja kala sebagai sendekala, yang merupakan waktu yang dianggap mistis sehingga mereka melarang anak – anak mereka ketika memasuki waktu tersebut. Mereka percaya kalau sendekala mengandung aura mistis yang membawa berbagai macam mala atau penyakit bagi tubuh dan juga pada waktu tersebut banyak makhluk – makhluk astral yang berkeliaran. Pada waktu tersebut terdapat makhluk – makhluk yang mereka sebut sebagai wilwa, genderuwo, kalong dan juga kolong wewe. Dalam cerita mengenai sendekala, mereka mempercayai bahwa makhluk – makhluk tersebut mengincar anak – anak yang bandel dan suka berkeliaran di luar rumah saat waktu senja dan membawa anak tersebut ke suatu tempat yang asing dan angker. Sehingga para orangtua akan mengatakan hal tersebut pada anak – anaknya yang bandel dan suka keluar saat waktu senja. Mitos ini disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi, meski setiap generasi kadang tidak tahu sebab kenapa bisa muncul mitos seperti itu, mereka hanya tau katanya, kata Nenek atau kata orangtua terdahulu. Karena “katanya” itulah yang menjadikan setiap generasi ke generasi tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sebenarnya istilah Sendekala ini memiliki penjelasan secara logis menurut ilmu pengetahuan.
Dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,”  (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim).
Selain itu juga dijelaskan dalam Sahih Muslim Nabi, bersabda: (Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu, Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu pintu rumah dan sebutlah nama Allah sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.”

Nah, dalam hadits tersebut jelaslah bahwa sebenarnya istilah sendekala yang dikenal oleh masyarakat Jawa tidak hanya sebagai mitos belaka, melainkan berdasarkan fakta yang mendasar pada hadits yang disampaikan oleh Baginda Rosul. Bahwa di waktu senja memang terjadi perubahan gelombang udara yang menyebabkan para makhluk tak kasat mata ini, bertebaran di mana-mana. Untuk itu, kita harus menjaga diri dari segala aktifitas di luar ruangan, agar terhindar dari segala macam bentuk penyakit yang dibawa oleh gelombang udara yang tak stabil.
Memang, diwaktu senja terdapat perbedaan suhu dan temperatur udara yang mengalami perubahan, sehingga tubuh harus dikondisikan dengan keadaan ini. Jadi, cerita tersebut bukanlah mitos, melainkan fakta ! 
Fitri Wahyuningsih (F1G013031)

Rabu, 14 Oktober 2015

Kejatuhan Cicak: Sinyal Datangnya Nasib Buruk


Tidak ada yang menakutkan dari hewan kecil yang biasa kita jumpai di tembok maupun di langit-langit rumah ini. Akan tetapi, beda ceritanya ketika cicak jatuh dan mengenai bagian dari tubuh kita. Sebagian besar orang akan merasa ketakuta ketika tanpa sengaja cicak menjatuhi kita karena itu merupakan suatu pertanda bahwa orang yang kejatuhan cicak akan mendapatkan sebuah kesialan. Kesialan itu bisa berupa meninggalnya sebagian anggota keluarga, akan mengalami kecelakaan, dan sebagainya.

Rasa takut akan tertimpanya nasib buruk, antisipasipun segera dilakukan. Misalnya, segera menangkap cicak yang menjatuhi orang tersebut kemudian menyobek mulutnya, atau pun membunuhnya. Sebagian lagi ada yang melakukan upaya pencegahan lain seperti melarang anggota keluarganya bepergian dalam kurun waktu tertentu. Kepercayaan seperti ini bisa disebut dengan thariyah, yaitu mengaitkan datangnya kesialan dan kemujuran berdasarkan sinyal dari fenomena alam yang terjadi disekitarnya.

Secara Islami, thariyah termasuk dalam perilaku syirik di mana manusia mempercayai sesuatu yang lain selain Tuhan. Thariyah sangat berbeda dengan firasat atau feeling yang datang secara tiba-tiba. Firasat akan datangnya hal yang buruk ataupun firasat akan datangnya hal yang buruk itu murni berasal dari benak manusia. Berbeda dengan kepercayaan yang dikait-kaitkan dengan hewan. Lagi pula, jika difikirkan secara logis tidak aka nada hubungannya antara cicak yang menjatuhi kita dengan hal buruk yang terjadi setelahnya. Faktanya, banyak orang yang kejatuhan cicak tapi tidak diiringi dengan nasib buruk yang menimpa. Namun, kebiasaan kita adalah mengaitkan kejadian buruk apapun yang terjadi setelah peristiwa kejatuhan cicak, seolah cicak benar-benar telah membawa sebuah kesialan.

Beberapa contoh lain yang mirip dengan kasus cicak ini, misalnya datangnya kupu-kupu ke dalam rumah di malam hari yang menandakan akan hadirnya rizki dan datangnya tamu, suara burung gagak yang menandakan kematian,  ayam jago yang berbunyi saat dini hari yang menandakan adanya seorang perawan yang tengah hamil, dan masih banyak lagi. Nah, sebagai umat beragama, hendaknya kita tidak mempercayai mitos-mitos seperti ini.   - Ayu Salfiani, F1G013021

Dilarang Ada Bedug di Masjid Ujunggebang


Ujunggebang adalah salah satu desa di Kecamatan Susukan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Desa ini terletak di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu.
Di beberapa masjid pasti terdapat bedug dan pada saat waktu sholat, malam takbiran, banyak masyarakat yang menabuh begud di dalam masjid-masjid dan surau-surau, tapi berbeda dengan kaum muslimin yang tinggal di salah satu desa Ujunggebang. Di desa ini sejak dulu hingga sekarang sama sekali tak pernah terdengar suara bedug bahkan tidak boleh ada bedug dalam masjid Ujunggebang. Mengapa demikian?
Zaman dahulu ada seorang tetua Ujunggebang bernama Ki Tambak. Beliau mempunyai alat berupa bedug yang digunakan untuk memanggil buaya untuk melawan musuh desa Ujunggebang. Mitos tersebut berkembang didalam masyarakat desa Ujunggebang bahwa di dalam masjid desa Ujunggebang tidak boleh ada bedug ataupun menabuh bedug karena kalau sampai terjadi hal tersebut maka buaya-buaya yang ada di sungai Rentang akan datang ke desa Ujunggebang. Bahkan sampai sekarang mitos tersebut berkembang di masyarakat setempat.- Nurkhasanah, F1G013003